Selasa, 04 Januari 2011

Ekonomi Indonesia 2011 Bisa Tumbuh 6,4 Persen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 bisa mencapai 6,4 persen karena tren ekspektasi pasar yang tetap positif meski masih dibutuhkan keberanian pemerintah untuk mencapai target dan program yang sudah dicanangkan.

"Saya melihat tidak ada gangguan berarti. Kalau program pemerintah berhasil, pertumbuhan akan lebih cepat lagi di 2011 dan pertumbuhan bisa 6,4 persen," kata Chief Economist Dana Reksa Institute, Purbaya Yudi Sadewa dalam "HIPMI Economic Outlook 2011" di Jakarta, Kamis.

Ia memperkirakan, situasi Indonesia yang kondusif ini hingga 2016, ekonomi akan terus ekspansif sehingga bisa dikatakan ke depan akan sangat cerah. "Hambatannya cuma satu yakni prilaku sistem yang jarang berubah," katanya.

Ekonomi senior Mirza Adityaswara malah menilai, saat ini kondisi Indonesia seperti era 90-97 yang ditandai dengan stabilnya politik, pasar finansial booming, dan suku bunga berada pada level terendah sepanjang sejarah, serta perbankan sehat karena sudah direkap semua.

"Artinya perbankan sudah punya modal dan bahkan beberapa sudah right issue. Jadi, bisa dibilang 80 persen dari ekuitas mendukung untuk pertumbuhan ekonomi," katanya.

Oleh karena itu, tegasnya, untuk bisa tumbuh 6,3-6,5 persen sangat mungkin dicapai dan bila ingin lebih tinggi harus kerja lebih keras lagi, terutama penyediaan infrastruktur dan koordinasi pusat-daerah dan penyerapan APBN dan APBD.

Namun, tambah Mirza, tantangan yang layak diwaspadai adalah apakah Eropa benar-benar bisa keluar dari krisisnya. "Tapi saya yakin masa IMF dan Amerika mau akan dibiarkan jatuh lagi untuk kedua kalinya setelah krisis global 2008. Kalau ini bisa dilewati, maka 2011 bisa dilewati dengan baik," katanya.

Sementara itu, bagi pebisnis yang juga Chief Executive Officer (CEO) Northstar Pacific, Patrick Waluyo, dirinya kuatir dengan persoalan inflasi yang dikhawatirkan akan menjadi masalah, terutama terkait dengan rencana pembatasan subsidi BBM yang pada sisi lain adalah menaikkan harga jualnya ke harga pasar.

"Itu jelas akan memicu inflasi. Jika tak terkendali bisa hingga 40 persen. Jika ini terjadi, maka otoritas moneter pasti akan memainkan instrumen suku bunga lagi dan akhirnya terjadi pelambatan ekonomi. Ini harus dipikirkan oleh pemerintah," katanya.

Namun, jika hal itu bisa dikendalikan dengan baik, maka posisi dan situasi ekspansif ekonomi Indonesia akan tetap terjaga.

"Kongkritnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk ekspansi. Kita punya pondasi yang baik. Iklim yang baik. Mestinya kita dalam posisi yang baik. Waktunya untuk ekspansi habis2an. Kita lihat juga banyak sekali investor luar bahkan mau masuk ke Indonesia," katanya.

Mirza juga menambahkan, secara makro, inflasi 2011 diperkirakan akan lebih tinggi dari realisasi tahun ini karena harga komoditi dunia dan domestik memang cenderung naik karena adanya permintaan yang juga naik. 

"Apalagi kalau Eropa pulih, `demand` akan naik juga. Tapi, harga komoditi tidak akan segila seperti pada 2008," katanya.

Suku Bunga

Khusus soal suku bunga, Mirza juga menilai, akan bertahap dan menjadi single digit dan untuk itu pemerintah harus mampu menurunkan inflasi. "Kalau masih kepala 6, susah. Inflasi harus bisa 2 persen dan itu belum pernah kita capai dalam kondisi normal," katanya.

Selain itu, tegasnya, kompetisi pada berbagai segmen kredit harus dinaikkan, khususnya di level menengah. 

Kemudian, kompetisi bank untuk penyaluran kredit masih harus ditambah, juga untuk level mikro. 

"Kalau dulu pemainnya para tengkulak, namun setelah BRI, Danamon, BTPN masuk, dll, pasti bunga di pasar akan turun. Kredit motor, mobil akan turun. Kompetisinya harus disemua level. Termasuk di level bank. Tapi ini makan waktu," katanya.

kenapa ekonomi indonesia 2011 lebih baik ??

Banyak kalangan optimistis perekonomian Indonesia tahun ini bakal lebih baik dibandingkan 2010. Setidaknya dari sisi target pertumbuhan ekonomi, pemerintah sudah mematok perkiraan 6,4 persen atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 5,8 persen. 

"Pemerintah sudah sepakat, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih tinggi lagi," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan saat dihubungi VIVAnews di Jakarta. 

Dengan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 6,4 persen, maka peluang menciptakan lapangan kerja akan semakin terbuka dan lebih banyak. "Pengangguran akan menurun, pendapatan meningkat dan kemiskinan berkurang."

Rusman berkeyakinan performa ekonomi tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun lalu karena sejumlah hal. 

Pertama, dengan pertumbuhan ekonomi 2010 yang bisa mencapai 6 persen, maka pendapatan masyarakat meningkat sehingga akan mendorong permintaan konsumsi masyarakat menjadi lebih kuat serta menciptakan permintaan baru bagi barang dan jasa. "Masyarakat atau rumah tangga memiliki kemampuan belanja lebih besar pada 2011."

Kedua, ada kekuatan belanja pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011 sebesar Rp1.200 triliun. "Jika lebih efektif dibelanjakan akan mendorong pertumbuhan."

Menurut Rusman, seperti disampaikan pemerintah penggunaan anggaran negara akan diprioritaskan untuk membangun proyek-proyek infrastruktur. Ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian. Namun demikian, pemerintah harus bersinergi dengan swasta dalam membangun proyek-proyek infrastruktur. 

Ketiga, dari sisi pertumbuhan ekspor juga akan semakin bagus. Tahun lalu, ekspor Indonesia mencapai rekor dan akan terus tumbuh pada tahun ini. Apalagi, kata dia, ada geliat perekonomian dunia yang akan berdampak pada kebutuhan barang impor. "Sebagian barang impor tersebut dipasok dari Indonesia." 

Keempat, kata Rusman, investasi dari swasta, baik asing dan lokal juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Pada tahun lalu, investasi juga menunjukkan adanya perbaikan.

Perkembangan Ekonomi Internasional

PERKEMBANGAN EKONOMI INTERNASIONAL
Krisis ekonomi Asia yang berkepanjangan telah mengubah perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 1998 ketingkat yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Misalnya IMF, dalam World Economic Outlook edisi Mei 1998, merevisi kembali perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi sekitar 3 persen dari perkiraan 3,5 persen pada bulan Desember 1998 dan 4,25 persen pada bulan Oktober 1998.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah akan terjadi pada negara-negara yang tahun ini masih mengalami krisis ekonomi, yaitu Indonesia, Korea, dan Thailand. Negara-negara ini akan mengalami penurunan yang tajam pada sisi permintaan domestik dan impornya. Pada skala yang lebih kecil, penurunan pertumbuhan juga akan terjadi pada Malaysia, Filipina, dan beberapa negara Asia Timur lainnya.
Di antara negara maju, prospek jangka pendek Jepang nampak memburuk. Terkait dengan berbagai kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi negara-negara Asia yang merupakan mitra dagang utamanya, pemulihan ekonomi Jepang terhambat karena berbagai persoalan ekonomi domestik, seperti sektor keuangan yang lemah dan berbagai kesulitan yang ditimbulkan oleh hutang yang macet, keterlambatan penerapan reformasi struktural, serta berkurangnya rangsangan fiskal dalam tahun 1997 seperti peningkatan pajak konsumsi.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Barat tetap pada tingkat yang terjaga. Kondisi permintaan domestik yang kuat di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggeris serta beberapa negara Eropa Barat lainnya diharapkan dapat mendorong perbaikan posisi neraca pembayaran yang diperlukan negara-negara Asia sehubungan dengan menurunnya aliran modal asing masuk ke kawasan tersebut. Negara-negara Asia yang sedang mengalami proses restrukturisasi berpeluang untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara maju tersebut.
Meskipun sejauh ini krisis negara-negara Asia masih terbatas pengaruhnya pada pertumbuhan dunia, namun demikian kondisi krisis ini bersama-sama dengan penurunan harga minyak bumi dapat menyebabkan perubahan yang cukup luas terhadap perkembangan perdagangan dunia. Beberapa negara mungkin mengalami akibat yang menyakitkan. Negara-negara tersebut diharapkan tidak mengadakan hambatan perdagangan ataupun depresiasi nilai tukar yang berlebihan untuk meningkatkan daya saingnya. Reaksi defensif ini akan berakibat ýcounterproduktifý, memperlambat proses keluar dari krisis, dan mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi dunia.
Krisis ekonomi di beberapa negara Asia (Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand) memberikan efek pada pasar komoditi dunia melalui beberapa saluran, seperti yang disampaikan dalam buletin Commodity Markets and The Developing Countries edisi Februari 1998 dari Bank Dunia. Pertama, harga-harga komoditi ekspor ke lima negara yang mengalami krisis akan turun dalam dollar AS karena adanya devaluasi. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang melambat dan harga komoditi impor yang naik akan mengurangi permintaan akan impor. Ketiga, dua efek terdahulu akan memberikan pengaruh pula pada pertumbuhan ekonomi negara lain dengan besaran yang berbeda-beda. Keempat, harga komoditi yang turun pada pasaran dunia akan mengurangi pula pendapatan ekspor negara-negara lain.

1997
1998
Output Dunia
4,1
3,1
Kelompok Negara Maju
3,0
2,4
Amerika Serikat
3,8
2,9
Jepang
0,9
0,0
Jerman
2,2
2,5
Perancis
2,4
2,9
Itali
1,5
2,3
Inggeris
3,3
2,3
Kanada
3,8
3,2
Kelompok Negara Berkembang (Asia)
6,7
4,4
Bangladesh
5,5
5,2
China
8,8
7,0
India
5,6
5,2
Indonesia
5,0
-5,0
Malaysia
7,8
2,5
Pakistan
3,5
5,5
Filipina
5,1
2,5
Thailand
-0,4
-3,1
Vietnam
7,5
5,0

Tabel 1.
Komoditi pertanian merupakan komoditi yang banyak terpengaruh krisis ekonomi seperti karet alam, kayu tropis, dan padi. Indonesia, Thailand, Malaysia merupakan negara penghasil dan eksportir sebagian besar komoditi tersebut. Sebagai contoh adalah meningkatnya ekspor beras Thailand sekitar 100 persen dalam bulan Januari 1998 dibanding bulan yang sama pada tahun 1997 sebagai akibat dari menurunnya harga beras ekspor sekitar 18 persen. Peningkatan ekspor beras Thailand ini mungkin akan mengurangi peluang pasar ekspor Pakistan dan India.

Sejarah Konfrontasi Indonesia VS Malaysia

Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg tanggal 31 Juli 1963, Manila Declaration Wikisource-logo.svg tanggal 3 Agustus 1963, Joint Statement Wikisource-logo.svg tanggal 5 Agustus 1963[4] mengenai dekolonialisasi Wikisource-logo.svg yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB.[5] sebagai wilayah Non-Self-Governing Territories

Latar Belakang
Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.
“     Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda[6], amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.     ”

Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[7]an juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[8] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:
“   
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.


 Perang

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:

* Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia
* Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.
komando aksi sukarelawan

Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.

Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 200 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 2000 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia.
Akhir konfrontasi
Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

Indonesia Raksasa Ekonomi Dunia: Benarkah…???

Sebagai rakyat kecil dan orang awam dalam bidang ekonomi, tentu saja gembaira, bahkan sangat gembira membaca berita di Kompas.com hari ini (2/1/2011) yang berjudul : RI Negara Perekonomian 18 Besar Dunia. Berita tersebut mengutip keterangan otoritas ekonomi Indonesia Menko Bidang Perekonomian Rakyat Hatta Rajasa yang mengatakan bahwa” Indonsia saat ini dikatakan negara perekonomian 18 besar dunia dengan nilai produk domestik bruto lebih dari 700 miliar dollar AS. Seluruh indikator ekonomi makro pada 2010 dinilai semakin stabil dan kokoh. Cadangan devisa pada Desember ini mencapai 94.7 miliar dollar AS. Sementara itu, nilai ekspor mencapai nilai tertinggi, yaitu 150 miliar dollar AS. Bahkan lebih lanjut Hatta Rajasa mengatakan bahwa Indonesia (kita) sudah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia”. Amboiii…
Siapapun warga negara Indonesia pasti adem rasanya mendengar ucapan Pak Menteri tersebut. Apakah pernyataan tersebut ada dalam realita? Tentunya, banyak jawaban dan saya yakin lebih dari 80 % rakyat Indonesia tidak dan belum  merasakan kehebatan (raksasa) ekonomi dunia. Boleh jadi kenyamanan ekonomi raksasa dunia itu hanya dirasakan oleh segelintir rakyat RI, mungkin hanya para elit dan pejabat serta pengusaha yang juga belum tentu didapat dengan cara elegan. Jeritan rakyat banyak, semakin susahnya mendapatkan sesuap nasi, semakin banyak anak tidak atau putus sekolah, masih banyak rakyat yang makan nasi aking, indikator kemiskinan semakin tinggi sebagaimana diungkapkan oleh penelitian ICW belum lama ini, atau bisa jadi Indonesia menjadi raksasa itu karena masuknya ‘uang panas’ modal asing ke Indonesiasebagaimana dikhawatirkan oleh para ekonom seperti Anggito Abimanyu (Kompas, 21/12/2010) dll indikator, semuanya masih menyisakan nestapa rakyat Indonesia yang belum dapat dikatakan sejahtera sebagai dampak dari ‘raksasanya’ perekonomian Indonesia.
Ungkapan Menko Perekonomian tersebut apakah hanya menghibur rakyat yang berduka dan hidup di bawah bayang-bayang suasana yang tidak menentu. Wallahu A’lam. Yang jelas, bila Indonesia sudah menjadi raksasa ekonomi dunia, tidak akan ada lagi yang namanya warga RI yang mengais sesuap nasi di negeri orang sebagai  TKW/TKI yang nasibnya sangat menyayat hati nurani dan memalukan bangsa; dan juga tidak lagi mengekspor TKW/TKI, namun mengekspor barang-barang produksi bergengsi.